Close

07/06/2017

Tips Sukses Toilet Training

Anak Anda Sudah Siap Diberikan Toilet Training?

Mengajari anak untuk memakai toilet sendiri (toilet training) sangatlah penting. Anda tidak perlu lagi kerepotan mengganti popoknya ketika sedang sibuk melakukan aktivitas rumah tangga lainnya. Selain meringankan beban Anda, kemampuan memakai toilet sendiri juga dapat bermanfaat bagi si Kecil pada masa mendatang dalam kehidupannya.

Toilet training adalah proses ketika anak belajar untuk buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB) di toilet selayaknya orang dewasa. Pada tahap ini, anak diajari untuk tidak lagi mengeluarkan air seni dan tinja pada popok. Kemampuan memakai toilet juga berguna untuk mengetahui apakah anak Anda tumbuh dengan normal atau tidak.

Cara Mengetahui Anak Sudah Siap Jalani Toilet Training
Tiap anak memiliki perkembangan yang berbeda-beda, termasuk kemampuannya untuk memulai toilet training. Umumnya, anak siap menjalani toilet training pada saat berusia 1 tahun 6 bulan, tapi kebanyakan anak siap memulainya pada saat berusia 1 tahun 10 bulan hingga 2 tahun 6 bulan. Kebanyakan anak sudah bisa memakai toilet dengan sempurna sekitar usia 3 tahun.
Untuk mengetahui tanda awal seorang anak siap untuk diberikan toilet training adalah dengan melihat kesiapan fisik dan emosionalnya.

Tanda-tanda anak siap secara fisik adalah ketika dia mampu mengontrol keinginan untuk BAK dan BAB. Hal ini jarang terjadi sebelum usia 1 tahun 6 bulan. Anda bisa mengetahui kesiapan fisik ini jika:

1. Anak memperlihatkan ekspresi saat menahan BAK atau BAB.
2. Popok kering saat bangun tidur atau setelah dua jam pemakaian.
3. Tidak BAB di popok saat malam hari.
4. BAB terjadi pada waktu yang sama tiap harinya atau pada waktu yang tidak bisa diprediksi.
5. Anak mampu melepas dan memakai pakaian serta mampu berkomunikasi dengan Anda tentang pemakaian toilet.

Berbeda dengan kesiapan fisik, kesiapan secara emosional butuh waktu yang lama. Berikut ini adalah tanda-tanda anak Anda sudah mencapai kesiapan emosional:
1. Anak akan memberitahu Anda ketika popoknya kotor dan meminta untuk diganti dengan yang baru.
2. Dia lebih memilih memakai celana dalam ketimbang popok.
3. Menunjukkan ketertarikannya ketika Anda memakai kamar mandi.
4. Memberitahu Anda ketika dia ingin buang air.
5. Bersemangat mengikuti semua proses toilet training.

Langkah-langkah awal yang harus Anda lakukan untuk menunjang proses toilet training pada anak antara lain:

Kenalkan anak kepada toilet. Mulailah menjelaskan penggunaan toilet, seperti toilet digunakan untuk BAK dan BAB. Katakan kepada anak ketika mulai memakai toilet, berarti dia harus melepas popoknya dan menggantinya dengan celana dalam. Jelaskan pula bahwa anak sudah tidak bisa BAK dan BAB pada popok atau celana dalam. Untuk mempermudah anak mengatakan istilah BAK dan BAB, Anda bisa menggantinya dengan kata ‘pipis’ atau ‘ee’. Jangan lupa untuk menjelaskan pula kedua arti kata tersebut agar anak memahami makna yang sebenarnya.

Tips Sukses Toilet Training

1. Pastikan balita siap. Umumnya balita bisa diajak toilet training setelah otot-ototnya mulai dapat mengontrol kandung kemih pada usia di atas 18 bulan. juga ditandai dengan kesiapan emosi, fisik dan psikologis seperti penjelasan di atas.
2. Biasakan kegiatan kamar mandi. Mulai kenalkan dan biasakan ia pipis dan buang air besar (BAB) di pispot atau potty chair. Biarkan ia memilih agar ia suka menggunakannya. Perlihatkan ketika Anda membuang dan mem-flush kotorannya dari popok di kloset. Ajak ia ketika Anda menggunakan toilet supaya ia makin paham perlunya toilet. Ceritakan secara sederhana cara pipis dan bab serta proses memakai pispot atau toilet, jelaskan tentang alat kelamin dan fungsinya, bacakan cerita atau dongeng tentang pispot, dan belikan ia celana dalam atau training pants seperti layaknya anak sudah besar. Memakai training pants membuat toilet training lebih mudah karena pipis tidak akan berceceran di lanati seperti celana dalam biasa.
3. Atur jadwal. Mengatur asupan cairan dan makanan ke tubuh balita diperlukan untuk mengatur interval ke kamar mandi. Amati jadwal siklus pipis dan buang air besarnya, misalnya ia biasa pup sekitar jam 9 pagi dan pipis 1 jam sekali. Siklus pipis dan bab ini memudahkan Anda mengajaknya menyalurkan dorongan bak dan bab di tempat dan waktu yang tepat.
4. Konsisten. Pastikan pula pengasuh anak mampu secara konsisten melaksanakan pelatihan yang Anda terapkan sehingga tidak terjadi kebingungan. Beri informasi lengkap dan detil mengenai kebiasaan dan jadwal pipis dan balita. Konsisten membimbing balita akan membuatkan cepat paham dan maik trampil memakai toilet.
5. Pakai cara seru. Lambungkan kreativitas Anda untuk mengajak balita melakukan toilet training agar lebih seru. Anda dapat memasang obat khusus yang tidak berbahaya untuk membuat air di kloset menjadi biru, memasang papan target untuk balita menempel stiker tanda berhasil memakai pispot/toilet dengan benar. Atau menempatkan boneka favorit sebagai teman ketika pipis atau pup, dan cara lainnya. Agar ia gebira dan selalu bersemangat melakukan toilet training.
6. Beri pujian. Rayakan bila ia berhasil melakukan pipis dan pup dengan benar. Hadiahi dengan pujian. Jadikan hal toilet training sesuatu yang penting dan terbaik dalam hidupnya. Kalaupun terjadi ‘kecelakaan’ hindari untuk menhukumnya, katakan saja Anda tidak suka. Wajah marah dan kecewa Anda, hanya akan membuatnya takut dan malah lebih sering tidak mau mengatakan bahwa ia ingin pipis atau pup.

Mengajari anak menggunakan toilet memang butuh kesabaran. Hari ini mungkin dia mau mengikuti semua proses toilet training, namun hal itu bisa saja berbeda pada keesokan harinya. Intinya, jangan memaksa jika memang anak tidak mau melakukannya. Bersabarlah hingga anak benar-benar terbiasa tanpa popoknya.

Selamat Berjuang SOBI smart moms..

(sumber: alodokter.com, ayahbunda.co.id)

Facebooktwitterpinterest